Belajar Dari Camping

Salah satu ‘gaya’ saya dan Gilles yang masih terbawa sampai sekarang saat sudah menjadi orangtua adalah/ camping. Kenapa camping ? Lumayan banyak anggota keluarga dan beberapa teman yang iseng nanya, seneng banget sih camping ? what’s something special from camping ? Sebenernya ini juga salah satu yang mengikat keluarga kami selain jalan-jalan di hutan atau di gunung, tapi selain itu menurut kami banyak hal yang bisa diajarkan ke anak melalui liburan sederhana ini.

Pertama adalah tentunya membiasakan kesederhanaan dalam berlibur.

Di Prancis, hak cuti seorang pegawai terbilang banyak, kalau saya hitung-hitung bisa sampai 2 bulan, tergantung berapa jam kerja per minggunya dan jenis pekerjaannya apa. Kebayang ngga kalau selama 2 bulan kita harus selalu menginap di hotel dan makan di restaurant ? Hidup sederhana tentunya menjadi sulit untuk dibiasakan, bukan hanya untuk Gla tapi juga untuk kami sebagai orangtua.

Kedua, menanggalkan kenyamanan sehari-hari. Mungkin definisi nyaman sebenarnya hanyalah untuk kami sebagai orang dewasa ; kasur yang empuk dan lega, rumah yang hangat, kamar mandi pribadi, ada koneksi internet, dsb dan tentunya sebagai orangtua, ingin selalu memberikan kenyamanan tersebut untuk anak. Padahal, mungkin kalau untuk anak seumuran Gla kenyamanan untuk dia adalah bisa selalu bermain bersama orangtuanya dan tidur empet-empetan sama Papa Mamonya :)). Nah, makanya kami masukkan camping sebagai bagian dari belajar adalah karena itu, biarlah dia mengenal dan merasakan semuanya sejak kecil, sebelum dia menjadi dewasa dan memiliki penilaian relatif terhadap hal-hal tertentu ; tidur di tenda, ngga sehangat di rumah, ngga ada kulkas, dapur seadanya, dsb. Karena masalah nyaman atau ngga nyaman sejatinya kembali ke pribadi masing-masing selain itu kami percaya kita selalu bisa belajar dari situasi tidak nyaman tersebut.

Dan yang ketiga, yang nggak kalah penting, kami ingin sebagai orangtua yang multikultural, Gla bisa melihat cara hidup orang lain yang sangat berbeda dari kami. Loh kok jadi cara dan gaya hidup ? Iya, karena banyak sekali pasangan lanjut usia yang hidup seperti ini, mereka berkeliling Eropa dengan camping car (CC) dan hidup nomaden selama berbulan-bulan (mungkin sejak musim semi sampai nanti musim gugur), jadi sebagian besar waktu mereka dihabiskan di jalan atau di camping ground (CG). Karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah inilah semuanya dibawa dalam 1 mobil (dapur, peralatan dapur, tempat tidur, toilet, sepeda, sampai televisi). Gladys sempat heran dan bingung waktu dia lihat semua isi rumah dalam 1 mobil dan kita jelaskan, pastinya dia ngga akan langsung mengerti, tapi nggak apa-apa, that’s where the learn process begin, right ?

Setelah menikah, kami membiasakan camping sebagai kegiatan keluarga ini sejak Gla umur 9 bulan. Dua tahun berturut-turut entah kenapa kita selalu memilih awal musim semi untuk camping, tapi belajar dari kesalahan yang sudah dilakukan dua kali, tahun ini kami memilih akhir musim semi untuk membuka tenda, setelah sebelumnya uji coba dulu di kebun di rumah. Bukan apa-apa, awal musim semi (maret-april) itu masih dingiiiin banget karena masih ada spring frost walaupun kalau siang sebenernya temperaturnya sudah mulai hangat. Sedangkan kalau awal sampai pertengahan mei cuacanya masih didominasi hujan dan angin.

IMG_20170526_120801[1]IMG_20170525_075010[1]IMG_20170526_092723[1]IMG_20170524_194238[1].jpg

IMG_20170525_075020[1]

 

Kami memilih CG di pinggiran sebuah kota, namanya Chartres, kurang lebih 40km saja dari rumah kami di Buc. Kotanya ngga terlalu besar tapi punya daya tarik untuk turis domestik, khususnya warga Paris yang mau menghabiskan liburan akhir pekan yang ngga terlalu jauh. Daya tarik utama dari kota ini, apalagi kalau bukan Katedralnya yang elegan (seperti kebanyakan Katedral di kota-kota lain di Prancis) dan Château de Chartres.

Camping di Prancis

Sebelum cerita lebih jauh tentang kegiatan selama camping, saya ceritain sedikit ya sistem per-camping-an disini. Umumnya di kota-kota besar di luar île de France akan selalu ada CG yang letaknya agak di pinggir sedikit dari pusat kota, biasanya berdekatan dengan ruang hujau terbuka milik kota tersebut. Nah, yang menarik itu adalah fasilitas yang terdapat di dalamnya. Kamar mandi umum dengan air hangat, toilet, tempat mandi dan ganti popok bayi, ruang untuk cuci piring, mesin cuci, sampai tempat pembuangan khusus untuk toilet CC adalah fasilitas yang wajib ada dalam setiap CG, tapi seringkali fasilitasnya lebih dari itu kok, ada listrik : colokan, taman bermain anak, area hijau terbuka yang cukup luas untuk bermain bola, kios kecil, bahkan ada CG yang lengkap dengan kolam renangnya. Tarif dasar per orang (mulai dari umur 6 tahun) untuk CG tenda adalah 6 – 8 euro per malam. Selain CG untuk tenda, ada juga CG yang untuk camping car. Untuk yang ngga ada tenda ataupun CC, ada fasilitas mobile home yang bisa disewakan, bentuknya kayak CC tapi ngga ada mobilnya aja. Setiap pagi ada petugas yang datang membersihkan semua fasilitas umum ini, jadi kebersihannya cukup terjaga. Untuk kebutuhan habis pakai seperti tissue toilet dan sabun memang tidak disediakan tapi ada kios kecil di depan yang menjual kebutuhan tersebut.

Ngapain aja sih kalo camping ?

Sejujurnya, kegiatan utamanya cuma satu, yaitu main, main, dan main di alam terbuka. Hampir ngga ada bedanya memang dengan kegiatan Gla sehari-hari kalau sudah mau masuk musim panas gini. Bedanya mungkin hanya sedikit, yaitu dia bisa bobo siang di atas rumput karena di dalam tenda gerah bukan main, kemudian jadi banyak interaksi sama tetangga yang buka tenda juga maupun yang ada di CC. Gla cuma bawa 1 boneka, bola, dan banyak buku untuk dongeng sebelum tidur, sisanya memang ngga ada kegiatan terarah, lagipula inilah waktunya bermain bebas di alam bersama orangtuanya, iya, kamipun juga harus berkomitmen untuk meminimalisasi hubungan kami dengan ponsel ataupun gadget lainnya tercinta, padahal di dalam CG juga ada wifi loh 😀

Shubuh itu biasanya saya dan papanya Gla sudah bangun tapi karna di luar masih terlalu dingin untuk beraktivitas biasanya kami baca buku sampai kira-kira matahari sudah naik sedikit baru deh kami keluar tenda, sedangkan Gla masih terus bobo sampai jam 8 nanti. Seperti di rumah, yang bikin sarapan itu biasanya suami (hahaha), sarapan disini maksudnya menjerang air dan nyeduh-nyeduh dan makan buah saja (untuk saya) dan roti (untuk suami) ya. Nanti agak siang sedikit, setelah yoga selesai baru saya membuat oat porridge untuk saya dan Gla. Menjelang siang, kami akan eksplorasi kota terdekat, dengan mobil kemudian jalan kaki karena kebanyakan pusat kota / kota tua hanya untuk pejalan kaki. Tergantung tingkat kemalasan, kalau lagi malas sekali, biasanya kami mencoba restauran di pusat kota untuk makan siang, kalau lagi niat sekali, seperti kali ini, kami kembali ke CG untuk masak. Untuk masak, tergantung apa yang ada di kulkas di rumah yang bisa saya bawa, tapi yang jelas bukan mi instan  pakai telor ya (pahlawan di kala camping jaman dulu)

IMG_20170525_201544[1]IMG_20170526_100859[1]

Tantangan Selama Camping

Walaupun ini adalah salah satu kegiatan keluarga yang sangat kami gemari, bukan ngga berarti ngga ada tantangannya sama sekali. Salah satunya adalah membiasakan Gla tidur lebih awal. Sudah lazim kayanya anak-anak seumuran Gla di Eropa tidurnya semakin malam menjelang musim panas sampai nanti akhir bulan Juni, ini karena siang yang semakin panjang sampai dengan puncaknya pada tanggal 20 Juni nanti. Nah, karena di CG ini kita seperti benar-benar slow down dari rutinitas sehari-hari, jadi biasanya jam 7 sudah selesai makan malam (terbilang super cepat ya untuk ukuran orang Prancis, apalagi pas musim panas gini, karena matahari masih terbenam sekitar pukul 9). Jam 8 biasanya kami sudah mulai masuk tenda dan tidur-tiduran karena sudah mulai dingin dan semriwing tapi karena Gla jam segitu masih seger, biasanya sesi dongeng jadi lebih lama dan panjang dari biasanya karena anaknya tetap aja tidur seperti biasanya (antara jam 9 – 10 malam). Kemudian, karena saya lagi hamil yang maunya buang air kecil terus, sedangkan untuk ke toilet umum lumayan ya harus jalan kira-kira 20 meter, ngga jauh sih tapi yah..tau sendiri kan bagaimana frekuensi pipis ibu hamil ? 😀 Kadang kami juga colongan sih, apalagi pagi-pagi saat Gla terbangun dan langsung minta buang air kecil, jadinya terpaksa dibawa dulu ke pojok yang ngga ada rumputnya biar CGnya ngga tercemar

Disini : Camping Bagian dari Budaya

Bukan bermaksud membanding-bandingkan, tapi kalau boleh saya belajar mungkin itu perbedaan mendasar yang saya rasakan waktu camping di negri sendiri dengan camping disini. Dari perbedaan yang mendasar ini terlihat jelas bagaimana manusianya memperlakukan fasilitas tersebut. Dulu nih, saya seumur-umur camping di CG hanya di Bumi Perkemahan Cibubur, selebihnya saya dan teman-teman seperti ‘harus’ trekking dulu ke gunung atau ke danau / telaga (ngga, saya ngga bicara glamping yang sedang naik daun tersebut). Sedangkan untuk keluarga dengan anak seumur Gla, atau ibu-ibu yang sedang hamil tua seperti saya tentunya kewalahan ya kalau mau camping saja harus melakukan perjalanan trekking karena lokasinya yang sulit dijangkau kendaraan. Mungkin sekarang sudah banyak fasilitas perkemahan di sekitar kota Jakarta, saya kurang tahu juga (?).

 

Kalau ada dari kalian yang suka camping dimanapun kalian tinggal, mau juga dong denger ceritanya. Buat yang belum dan pengen cobain camping bersama keluarga, cobain deh, pasti ngga kalah seru buat alternatif liburan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s