Menyemai Cinta Dalam Setiap Kata

Saya menulis ini karena sejujurnya sangat bersimpati terhadap vonis Pak Ahok  pada tanggal 9 Mei kemarin. Sepertinya sebagian rakyat Indonesia sedang merasakan simpati dan kesedihan yang sama. Saya bukan warga Jakarta, hanya banyak memperhatikan perkembangan politik belakangan ini, tepatnya semenjak pilkada DKI. Terus terang saya cukup kaget dengan begitu dahsyatnya dampak dari kampanye pilkada DKI. Dimana-mana terutama di sosial media kedua kubu saling menyerang, belum lagi pertemanan di grup seakan-akan menjadi tergerus oleh keruhnya situasi politik. Saya bertahan untuk tidak meninggalkan grup maupun unfollow beberapa orang yang senang sekali membagi berita tanpa berpikir panjang sebelumnya. Sebenernya saya bisa saja unfollow orang-orang tersebut atau meninggalkan grup pertemanan tersebut, tapi saya urung.. karena saya senang mengamati sambil belajar untuk tak langsung menghakimi. Saya mungkin tak tahu apa yang melatarbelakangi mereka (baca: kedua kubu) sampai sebegitu sengitnya mempertahankan pendapatnya, jadi saya ngga pantas rasanya mengkomentari hal ini. Yang jelas, setiap kita memang terlahir berbeda, adalah wajar jika seringkali opini kita bersebrangan dengan yang lain, tidak perlu disikapi dengan sengit, kadang ada baiknya kita belajar dahulu menerima diri kita sendiri bahwa pada hakikatnya tiap individu memang berbeda, terdengar mudah tapi ngga jarang sulit untuk diterima.

Yang saya khawatirkan adalah saat melihat orang-orang saling menyindir, tuduh, dan berbicara (walaupun hanya mengetik atau membagikan berita) yang rasanya kurang sedap dibaca. Saya membayangkan bagaimana anak-anak kita menyikapi hal ini nantinya, melihat betapa wajarnya melontarkan kata-kata yang kurang baik di dunia mayahanya untuk memêrtahankan pendapatnya yang dirasa benar. Saya, sebagai ibu, sangat percaya sekali, bahwa ibu punya peran dan pengaruh yang sangat kuat dalam pendidikan anak, dan pendidikan disini tentunya bukan hanya akademis tapi berbuat kebaikan, berbicara yang baik, sopan santun tanpa melihat apapun kulit luar dari seorang manusia (agama, ras, warna kulit, kebangsaan dan latar belakang).

Walaupun demikian saya masih percaya, masih banyak ibu-ibu lainnya yang juga amat perduli dengan masa depan anak-anak kita dan tak sungkan untuk mempersatukan kembali hubungan pertemanan yang dulu (sebelum pilkada) harmonis menjadi kurang sedap setelah pilkada ini, tak lain karena melalu ibu/wanita/perempuan lah saya yakin kelembutan hati dapat ditularkan, kata-kata baik yang penuh cinta dapat selalu dilantunkan. Artinya, peran ini bisa datang dari diri kita sendiri, seorang ibu, seorang wanita untuk selalu berkata baik (seperti saat kita bertutur kata kepada anak-anak kita) kepada siapapun, sesama manusia tanpa melihat identitas dan kulit luarnya

Sejujurnya, ada rasa takut yang membayangi untuk kembali ke Indonesia dan menghabiskan sisa hidup disana, rasa khawatir dan takut akan tiada tempat untuk minoritas seperti kami. Tapi, semakin rasa takut itu besar semakin saya sadari bahwa rasa takut adalah berkurangnya rasa sayang dan cinta kasih. Semoga semesta selalu memberi ruang untuk saya untuk bertutur yang baik dan menanamkan cinta dan kasih sayang di tiap perbuatan yang saya amalkan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s