Roses

Ngga pernah denger nama kota ini sebelumnya karena memang Roses hanya sebuah kota kecil dekat perbatasan Prancis-Spanyol. Di Roses, selain berbahasa catalon (yang ngga sama dengan bahasa Spanyol) mereka juga berbahasa Prancis, jadi pelarian kecil kami ke negara tetangga sebenernya ngga kerasa, karena merekapun sangat fasih berbahasa Prancis.

Sebenernya ini trip taun 2015, hampir setahun yang lalu, sayang kalau ngga ditulis dan dibagikan.

What we did there? Oh, tentunya trekking! Landscapenya Spanyol ini remarkable! Topografinya kasar dan menantang. Ditambah si Roses ini berada di teluk, yup.. Pemandangan laut mediterania adalah bonusnya saat kita trekking. Ada banyak situs megalitikum di sekitar Roses, bertebaran aja gitu di sepanjang jalur, tapi tenang.. situs megalitikumnya Gunung Padang di Cianjur masih super spektakuler dibanding dolmen-dolmen di Roses. Ngomongin trekking, pastinya ngga lepas dari peta topo, sebelum pergi kita udah siapin peta topo, kebetulan Gilles masih nyimpen waktu dia trekking dari refugee camp di Pyrenee (Prancis) ke Spanyol. Trekking di Eropa bisa dibilang mudah, semua jalur GR (grand randonee) tercantum di peta topografi yang bisa dibeli hampir di semua toko buku. GR ini jalurnya kemana-mana dan ada banyak (ditandai dengan nomor). Belum pernah mastiin juga apakah seluruh Eropa atau tidak tapi yang jelas Prancis dan Spanyol adalah 2 negara yang tercover oleh GR. Seneng deh kalo trekking kemana-mana bisa mandiri, ngga perlu guide atau porter, cukup bawa peta dan tenaga, orientasi dan arah jalur bisa dilakukan sendiri. Jalur GR kebanyakan berada dekat dengan garis pantai dengan ketinggian 300-500m di atas permukaan laut, jadi sambil trekking sambil memandang laut itu rasanya aduhai banget lah, walapun saat itu panas (padahal belum summer) tapi masih ada angin sepoi-sepoi yang bikin adem. Biasanya mulai trekking jam 10 pagi sampai jam 3-4 sore (tergantung jalur), supaya praktis kami selalu bawa bekel yang saya masak sendiri untuk makan siang dan cemilan sore, dengan begitu ngga perlu khawatir untuk cari restoran untuk makan siang. Untuk jalurnya, bisa banget dipilih dari yang paling mudah, menengah dan menantang, mau ganti rute atau jalur di tengah jalan juga bisa karena biasanya GR juga terhubung dengan jalur-jalur trekking lokal, modalnya cuma satu; bekel peta topo dan orientasi, that’s it. 

Akomodasi? Kami selalu mencari akomodasi yang lengkap beserta dapur (umumnya apertemen yang menawarkan begini), selain total harganya jadi lebih murah (seminggu) kalau ada dapur tuh rasanya tenang, bisa bikin makanan sendiri, terutama untuk Gladys yang waktu itu masih 10 bulan, dan ngga harus selalu jajan di luar

Kuliner? Well, we are not a big fan of wiskul kalo lagi traveling, menyediakan waktu 1 hari untuk nyobain tapas mereka itu sudah cukup banget untuk kami. Street foodnya Spanyol (setidaknya di Roses) modelnya snacks aja atau yang disebut tapas adalah aneka seafood yang disantap dengan baguette (roti) dan olive. Sedangkan Paella, sebagai salah satu main coursenya, menurut saya sih penampakannya mirip nasi kuning seafood, yang bikin beda adalah aroma dan rasa safrannya yang khas mediterania. Paella yang ditawarkan di restoran-restoran biasanya porsinya besar, makanya jangan heran untuk memesan ini minimal harus 2 orang yang makan, kalo engga ya ngga bisa pesen. Untungnya kami nemu restoran yang mau menyajikan Paella walaupun hanya untuk 1 orang…itu aja porsinya besar banget ngga karuan, walaupun akhirnya tandas juga sih sama *tunjuk tangan*

Sekitar Roses: Roses tuh kecil banget, jadi waktu disana seminggu kami pun nyari tempat-tempat lain yang ngga kalah kece, salah empatnya adalah Cadaques, Portlligat, Cap de Creus dan Castle Sant Pere de Verdera

Cadaques

Kota tua di teluk entah apa namanya, cantik, vintage, classic. Jalanan sepanjang kota tuanya kurang ramah stroller karena terbuat dari blok batu granit. Tapi itu ngga membuat kami tidak mengunjunginya, sambil angkat-angkat stroller dan gendong Gladys kamipun sampai ke gereja tuanya yang terletak di tempat paling tinggi di kota Cadaques. Di Cadaques kami cuma jalan di kota tua, makan dan liat-liat galeri dan musem terus lanjut ke Portlligat

Portlligat

The hometown of famous Salvador Dali. Rumahnya dijadikan museum dan dapat dikunjungi, asaaal booking dulu lewat internet. Portlligat adalah kampung nelayan terletak di teluk kecil di sebelah utara Cadaques, dimana Dali tinggal dan saking kayanya dia membeli hampir seluruh rumah nelayan yang ada di Portlligat Setiap harinya Casa Dali membatasi hanya delapan pengunjung dan kamipun kurang beruntung karena setiap harinya penuh. Ngga apa-apa, cukup memandangi rumahnya aja dan muterin Portlligat yang super duper mini namun cantik menawan.

Dari Portlligat naik lagi ke atas ke Cap de Creus, parkir di pelatarannya lighthouse. Cap de Creus adalah taman nasional yang layak dikunjungi di Catalon, banyak jalur-jalur yang asik buat trekking ringan bareng keluarga. Geomorfologi area ini ngga terlalu terjal sebenernya ditambah vegetasi yang terbuka sangat memudahkan trekker. Sayang, foto yang di hp terhapus semua padahal banyak foto kita waktu trekking di Cap de Creus 😦

Dari Cap de Creus,selang sehari untuk istirahat (ngga bia tiap hari jalan kalo bawa anak bayi..emaknya yang soak :D) abis itu kita ke Castle Sant Pere de Verdera, ngeri ya namanya…Buat yang suka arsitek dan sketching harus banget suatu hari kesini. Jadi, si castle ini dulunya adalah benediction monastery (atau tempat untuk pemberkatan monk) yang saat itu akan berangkat melawan pasukan barbar yang menginvasi kerajaan Roman. Gerejanya sendiri hanya tinggal reruntuhan aja, perlu trekking nanjak sedikit ke puncak kalau mau lihat sisa-sisa bangunannya, dari puncak ini juga kalaucuacanya bagus bisa kelihatan Cap de Creus dengan lighthousenya, sayangnya hari itu cuaca kurang bagus, ngga seperti hari lainnya, angin kenceng dan berkabut, parahnya kami tetep nanjak ke puncak. Sampai di atas maunya langsung turun tapi angin terlalu kenceng dan kabut terlalu tebal. Kurang lebih setengah jam kami menunggu badai angin reda sebelum turun kembali dan masuk ke castle. Castle ini sekarang sudah jadi museum. Dulu,gereja dan monastery ini juga menjadi salah satu pos/tempat bermalam bagi peziarah camino de santiago atau chemin de saint jacques dalam bahasa Prancis

Satu lagi, kami ngga selalu trekking sepanjang hari kok, pantai-pantai diRoses juga wajib dikunjungi tiap hari, sampai suatu saat kamipun salah masuk pantai, it was nude beach! itu kali pertama gue liat kakek nenek telenji sambil baca buku :))) (ngga ada fotonya!)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s