Bourges Volume 1

Tahun ini, bulan Agustus nanti, genap sudah tiga tahun saya tinggal di Bourges. Sebenernya mau nulis ini sejak lama cuma rasanya belum tergerak saja, nah sekarang saat kita tahu kemungkinan tinggal di Bourges tinggal sebentar lagi, meledak juga emosi ini untuk menulis sedikit tentang kota kecil yang berada di jantung negara Prancis. Postingan yang ini dikasih judul volume 1 karena kepanjangan kalau mau cerita semua tentang kota ini.

Kalau ditanya rasanya sedikit saja orang yang benar-benar siap dengan perubahan, selalu saja ada alasan untuk menundanya tapi ketika perubahan itu datang dan tidak bisa ditawar, mau nggak mau, suka ngga suka harus siap. Kira-kira itulah gambaran kesiapan mental saya tiga tahun yang lalu. Sebagai anak yang besar di Jakarta dan pernah merasakan suka dukanya jadi Jakartans tidak lantas membuat saya jadi kecanduan hingar bingar ibukota, malahan sebaliknya, saya mendambakan tinggal di sebuah kota kecil, hidup sederhana, mengurus rumah, kebun dan keluarga (pekerjaan idaman saya) hingga ke hal-hal paling kecil sekalipun (no, i’m not an OCD if you are wondering) di dalam rumah. Saya percaya semua kejadian yang saya alami (kalian juga, kalau emang percaya) tidak ada yang kebetulan, begitu juga yang terjadi tiga tahun lalu. Singkat cerita berjodohlah Gilles (suami saya, –masak suami tetangga) dengan posisi cukup strategis di Bourges. Sebagai Jakartans yang penat dengan polusi dan stres kehidupan kota besar, tanpa pikir panjang kami ambil posisi itu. Terlihat mudah ya? Lantas, apa iya semudah yang sudah saya bayangkan sebelumnya? Oh, tentu tidak! Bourges memang seperti kota kecil yang selalu saya khayalkan sejak saya kecil, kecil banget kotanya, saking kecilnya, setiap kali kita pergi ke pasar tradisional yang buka hanya Sabtu dan Minggu pasti ada saja satu atau dua atau tiga orang (entah tetangga, teman, rekan kerja) yang kami jumpai, kadang kami melipir sambil ngopi dan ngobrol atau kadang kalau memang tidak sempat hanya ber-apa kabar. Simple ya? Tapi rasanya hangat di hati, beneran deh

Semua perubahan yang saya temui disini berhasil bikin emosi saya naik turun, sebut saja, cuaca, saya benci musim dingin bahkan angin kenceng aja saya sebel, sebel pokoknya, sebel pakai baju berlapis-lapis padahal cuma tinggal ngesot aja ke sebelah beli roti. Kemudian, bahasa.. oh well, sudah terkenal kalau orang Prancis bangga akan bahasanya, mereka ngga merasa minder atau ngga ngikutin jaman kalau tidak berbahasa Inggris, ditambah lagi Bourges ini itungannya seperti ibukota Kabupaten, terbayang ada berapa gelintir manusia yang cakap berbahasa Inggris? Belum lagi, banyaknya kebiasaan orang Prancis yang sering bikin saya mau nangis garuk-garuk tanah; kebiasaan makan yang panjaaaaang…hanya salah satunya. Suami saya tahu persis bagaimana ngga sabarnya saya duduk di meja makan selama tiga jam, menunggu makanan datang dan pergi sambil ngobrol (dan ngga boleh lihat hp). Yes, sometimes i wanted to shout to the world “give me my warteg and bring me back to the good old days”. Sampai kemudian saya sadar, iya, ternyata yang bikin saya menderita bukan perubahannya tapi karena saya melawan perubahan tersebut, walaupun tinggal di kota seperti dalam khayalan saya, tapi di bawah sadar saya banyak hal-hal kecil yang saya tolak yang kalau dirangkum menjadi, ya perubahan itu tadi. Saya harus merubah bahasa sehari-hari, kebiasaan dan etika, dan juga merubah total cara makan saya sekeluarga.

Di Bourges lah saya pertama kalinya belum pernah ketemu orang Indonesia dalam hidup saya selama tiga tahun. Ada enaknya dan tentu ada ngga enaknya juga. Paling enak terutama adalah, (honestly) minim gosip!! Sudah bukan rahasia lagi, kalau orang Asia itu pertanyaannya suka terlalu jauh. Ngga usah di negri orang, di Indonesia aja, pertanyaan kapan nikah, kapan punya anak, agamanya apa, gajinya berapa saja dianggap pertanyaan yang lumrah walapun sebenarnya itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi. Dari pertanyaan dan jawaban yang terlalu jauh ini seringkali menyulut bisik-bisik atau gosip yang berujung ngomongin orang lain di belakang. Sedangkan ngga enaknya, yang paling ngangenin itu adalah ngomong bahasa Indonesia

Di Bourges juga lah pertama kalinya saya kemana-mana naik sepeda dan belajar berkebun di balkon. Untuk sepeda, karena ngga ada pilihan lain, dari awal memang ngga berminat ngambil SIM disini, selain harganya yang selangit, juga prosedur dan bahasanya yang terlalu rumit melebihi tes TOEFL atau IELTS. Bersepeda kemana-mana terbilang cukup praktis karena ada jalurnya dan pesepeda adalah salah satu yang diprioritaskan (setelah pejalan kaki dan handicap) di jalan raya, jadilah sepeda saya ditambahkan kursi untuk Gladys supaya dia bisa ikut ibunya kemana-mana. Sebelumnya saya khawatir banget, takut kenapa napa, takut dia jatoh, but hey everybody’s doing it and they’re fine. Kalau untuk berkebun memang masih belum bisa dibilang siap, kadang mental hancur lebur begitu liat tanaman diserang hama, iya salah satu up and downnya menanam organik memang begitu, adalah wajar kalau tanaman kita didatengin hama karena begitulah hidup di alam, hama jangan dilihat sebagai ‘musuh’ tetapi salah satu elemen dalam rantai ekosistem

Anyway, hidup di Bourges merubah ritme kehidupan kami yang tadinya lumayan sering jalan ke mall buat nonton atau sekedar makan di luar. Di Jakarta atay Indonesia umumnya, hidup itu dinamis dan energik, selalu aja ada peluang untuk orang yang mau usaha, liat maraknya transportasi online sekarang, keren banget kan? Disini, tanpa kami sadari kehidupan kami berjalan pelan, slow motion, dapat diamati dan ini salah satu yang membuat saya hampir depresi di enam bulan pertama. Di Prancis umumnya hari minggu adalah hari untuk beribadah karenanya ngga banyak toko ataupun restoran yang buka hari minggu dan SENIN. Wait, what? but Monday is not a weekend. Exactly, they take their time, Gita. Sebel banget, kadang suka merutuk dalam hati, mereka nih males banget sih, ngga mau cepet sukses apa bisnisnya?

Pernah suatu kali, hari sabtu, kita mau ngeteh sambil makan kue di sebuah salon de thé  (toko kue yang hanya menjual kue-kue untuk menemani minum teh), umumnya jam buka salon de thé  ini darijam 15.00 sampai jam 17.00 atau kalau weekend biasanya dari jam 10.00-12.00. Lalu, pergilah kita kesana, namanya cake thé,  dengan pedenya mau meja yang deket perapian karena waktu itu dingin, ditanyalah sama si mba pelayan toko; “sudah reservasi?” Gilles pun menjawab dengan muka bingung “ehmm…belum, emang harus ya ?cuma mau minum teh aja kok” Dan si mbak pun menjawab “oh maaf, penuh” sambil membuka pintu sebagai isyarat menyuruh kita keluar. Damn! I was like &^%$#@!* rasanya gondok setengah mati, belum pernah di negri sendiri saya ditolak masuk warung kue, ya itungannya warung lah ya itu, cuma jual kue-kue dan teh aja kok, ditawarin untuk nunggu juga engga. Ditambah, tau jam buka restoran disini? Untuk makan siang: 12.00-14.30 dan untuk makan malam 19.00-22.00, lebihnya? mereka tutup. Sering keki waktu awal tinggal disini dan hampir setuju waktu beberapa pendapat yang bilang bahwa krisis ekonomi di negara ini akan terus berlanjut.  Sampai akhirnya saya baca buku Gobind Vashdev. Saya suka pesan-pesan yang sering beliau bagikan di halaman media sosialnya dan di bukunya, salah satunya yang paling saya ingat kira-kira begini, “..pelankan sedikit ritme hidupmu, tengok dirimu, dan amati , disitu kamu jumpai keheningan dan dirimu yang sebenarnya..” Kebetulan? I don’t think so. Sekarang, setelah hampir tiga tahun mengamati bagaimana ritme mereka hidup dan menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri, ditambah saya pernah magang di dapur sebuah restoran, rasanya masuk akal untuk menekan tombol pause sejenak dan menarik nafas

Dan, terakhir untuk postingan Bourges volume 1.. Disinilah saya dan Gilles belajar untuk pertama kalinya menjadi orangtua. Jauh dari keluarga (beruntung ibu saya bisa bantu-bantu disini selama sebulan setelah melahirkan) membuat kami gotong royong dalam hampir semua hal, ngurus rumah, belanja, beresin kebun, masak, seleksi dokter anak untuk Gladys, seleksi day care, travelling, parenting brain storming, sekaligus bersosialisasi dengan teman-teman

Advertisements

2 thoughts on “Bourges Volume 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s