Melahirkan Gladys dengan Nyaman

Hello again,

back to motherhood story. Gladys udah 8 bulan tapi cerita kelahirannya baru sempet ditulis sekarang. Alhamdulillah, masih inget dengan jelas banget saat-saat sebelum melahirkannya. Kalau ditanya apa yang paling diinget dari proses persalinan.. mungkin jawabannya adalah, betapa tubuh, pikiran dan bayi gue benar-benar selaras, harmonis dan benar-benar tahu ‘tugasnya’. Our body is a God’s masterpiece. Jadi, ceritanya due datenya Gladys itu 12 Juli yang adalah masuk minggu ke-42. Balik dulu ke cerita awal ya, karena sangat berhubungan. Jadi, ibu udah dapet tiket jkt-paris tanggal 26 Juni dan paris-jkt 27 juli dengan tujuan adalah untuk mbantuin kita berdua mengurus Gladys. Sedangkan Gilles harus dinas ke German tanggal 22-25 Juli. Awalnya galau waktu tau tanggal-tanggal tersebut karena pastilah sebagai ibu baru pengennya ditemenin semaksimal mungkin ya ama suami dan sama ibu, sedangkan due date 12 Juli, iya kalo on time, kalo mundur? Ah, banyaklah kalau kalau lainnya. Daripada terus terusan gelisah dan cemas, akhirnya ini gue komunikasikan ke Gladys yang waktu itu sudah menginjak minggu ke 33-34. Sambil meditasi, kadang sambil relaksasi, kadang juga di kala senggang..ngobrolnya gini “Glayds, pilih sendiri ya tanggal lahirnya, tapi kalau ibu boleh minta ke Gladys, ibu ingin sekali ditemenin eyang putri dan papa Gladys selama mungkin, jadi ada yang bantuin ibu.. Kalau Gladys udah siap, Gladys boleh lahir kapan saja, ngga harus menunggu due date.. yang penting Gladys sehat dan siap untuk lahir”. Komunikasi dengan janin menurut gue penting dan esensial dengan mengajak ngobrol, kami merasa Gladys udah terlibat dalam tiap keputusan yang menyangkut keluarga kecil kami.

Terakhir konsultasi ke bidan tanggal 5 Juni dan ecografi tanggal 18 juni. Pesen terakhir ibu bidan sih kalau dari ecografi berat badan janin cukup ngga ada masalah dan mulai tanggal 18 juni baby Gladys secara medis sudah siap lahir tinggal secara mental aja. Tanggal 18 juni kami ecografi ternyata berat badan Gladys sudah cukup, posisi sudah oke, kepala di bawah dan anterior. Semua pun udah dikomunikasikan ke Gladys, kalo kami insya Allah siap lahir dan batin menyambut dia. Entah kenapa gue berfirasat Gladys belum akan lahir di minggu ini.
Datanglah tanggal 26 juni. I was so happy to see ibu, been a year, and i missed her like anak bebek kehilangan induknya. Was really happy to have all these good food from Indonesia, pempek, teri pedes, abon ikan roa dan kripik oncom. Nyam nyam lah semuanya.

Tanggal 27 Juni, walaupun ibu masih jetlag gue langsung ajak jalan ke centre ville dan makan di creperie kesayangan. Setelah puas jalan-jalan kita pulang, bobo.

Tanggal 28 Juni, hari Sabtu. Rasanya males banget masak, untung ada ibu, puas minta dimasakkin. Malamnya kita ajak ibu ke restoran tradisional Prancis yang paling hits lah di pusat kota Bourges; Bourbonnoux! Si Ibu takjub dengan panjangnya waktu makan orang Prancis dan porsinya yang imut-imut alias mini sampai akhirnya Ibu membuat kesimpulan sendiri, itulah kenapa orang-orang Prancis langsing langsing. Total lama waktu makan dari apero sampai dessert kira-kira hampir 3 jam aja. Pas udah mau pulang, hujan lebat, untung kita bawa payung.

Tanggal 29 Juni, hari pertama Ramadhan. Ibu puasa. Seperti layaknya hari pertama puasa, pasti bobooo mulu. Paginya guepun yoga flow, sendiri aja di rumah, liat dari youtube videonya Summer Huntington. Ini yoga flow hamil yang paling gue suka so far, pose-posenya bener-bener tetep melatih fleksibilitas selama kehamilan. Emang gue ikut yoga hamil di studio deket rumah, tapi cuma sekali dalam seminggu. Untuk gue yang butuh olahraga dan lumayan sering yoga, rasanya kurang, jadilah gue tambah yoga flow 2x seminggu dan yoga rutinnya Lara Dutta 1x seminggu (bisa diliat di youtube videonya). Gue inget banget jam 10.30 pagi, abis yoga sendiri itu gue ngerasain kontraksi. Selama kehamilan gue ngga pernah ngerasain kontraksi apapun (referensi gue kontraksi itu rasa nyerinya seperti mau mens, pegel di pinggang kemudian menjalar sedikit demi sedikit). Yah gue biasa aja.. cuman dalam hati “hello…. i’ve been waiting for you, pleasure to have you”. Semua ilmu dari Gentle Birth mulailah gue praktekkan. Sebisa mungkin selama ada waktu senggang gue goyang pinggul (iya, kayak Inul!) di atas gym ball. Semakin lama pun semakin agak panjang kontraksi yang datang. Untuk membuat gue nyaman gue pun cat pose setiap kontraksi datang atau meletakkan telapak tangan ke tembok, tangan diluruskan dengan posisi agak condong ke depan. Posisi ini enak banget karena punggung jadi lurus. Gilles lagi sepedahan pagi itu sampai siang, jadi gue santai aja beberes di rumah. Menurut banyak orang kalau udah terasa kontraksi gitu harus tetep aktiv bergerak. Akhirnya gue pun beberes rumah, sambil ngobrol sama Gladys.

Sorenya, gue kepingiin banget jalan kaki, kayaknya badan maunya gerak terus dan gue pun maunya ke Rocade Vert deket rumah, entah kenapa pengen liat pohon berderet yang banyak. Akhirnya ditemenin Gilles kita jalan kesana, kebetulan deket rumah. Sambil jalan kontraksi datang dan pergi, i was happy as a kid, walking down and staring at those beautiful trees. Pulangnya mampir ke Djerba buat beli kue-kue maroko buat buka puasa ibu. Oh iya, mulai sore pun gue udah rajin ngukur lamanya kontraksi dan jeda antar kontraksi (kalo ngga mau ribet install aja aplikasinya di play store)

Sampai di rumah, i was all set for watching football match, kalo ngga salah waktu itu Prancis..lupa-lupa ingetlah. Yang gue inget waktu itu, masih ada durian monthong di freezer beli di toko asia. Langsung lah gue minta ama Gilles itu durian dihidangkan. Kayaknya my mind and body work together karena setelah abis satu biji durian, langsung keluar flek, merah kecoklatan (jam 8 malem). Oh well, looks who will come out soon from the womb 😉

Malemnya gue tidur cepet karena untuk persalinan besok (iya,gue yakin dan pasrah in the same time kalo persalinannya akan dimulai besok, tanggal 30 Juni), hey.. your body needs rest to do a big job tomorrow. Gue udah bilang sama Gilles, kalo besok kontraksi makin hebat, kamu ngga pergi ya (karena senin tanggal 30 juni itu harusnya dia berangkat dinas ke St.Etienne, Lyon), diapun setuju. Sebelum tidur yang gue dengerin pake earphone tak lain tak bukan adalah relaksasi dan afirmasi positifnya ibu Lany Kuswandi. Aselik.. ini ngebantu banget gue merasa nyaman, percaya diri dengan tubuh, percaya dengan Gladys, percaya dengan Gilles, percaya dengan pendamping persalinan gue siapapun dia, dan yang terpenting percaya pada semesta dan yang maha kuasa that eveything just gonna be perfect as it is. Terakhir sebelum tidur jeda kontraksi udah sekitar 4 menit sekali dengan lamanya 45-50 detik. Abis itu, dengan nafas perut, hitungan kesepuluh..guepun tertidur.

Emang ngga bisa lelap sih tidurnya, soalnya pipis-pipis terus. Gue terbangun jam 3, ibu lagi sahur. Gue nemenin. Ibu dengan cemas nanyain gimana kontraksinya, gue jawab seadanya, makin sering dan makin lama. Gue cek tiap kontraksi udah lebih dari semenit. Ibu nyaranin mandi dari sekarang dan bersih-bersih. Iya, gue bilang, gue pengen bersih dan wangi waktu Gladys lahir. Terus gue nyoba tidur lagi, udah ngga bisa, akhirnya gue berpelvic rock untuk menyamankan punggung yang rasanya aduhai. Yup, gue merasa banget setiap habis gerakan pelvic ataupun goyang pinggul Gladys pun makin dahsyat gerakannya dan setiap kali pula gue bisikin ke dia; good job Gladys, cari jalan lahirmu sendiri ya, tubuh ibu sudah siap membantumu lahir, ibu dan papapun Insya Allah siap lahir batin.

Jam 5 gue mandi. Saat itu summer jadi jam 4.30 fajar udah menyingsing. Jam 6 Gilles bangun dan langsung gue bilang, lo ngga bisa ke St.Etienne sekarang, Gladys akan lahir hari ini. Kaget juga dia sampe pake nanya: kamu yakin? LAH!!! Gue jawab aja, gue cuma nerjemahin how my body and Gladys talk to me..i just listened to them and they said they are ready for today, so pick the phone and cancel all your business trip because today you’ll be a FATHER but first you’ll be my birth partner.

Gue udah rapi jali. wangi, bersih. Gue pake rok panjang yang paling gue suka untuk menyambut Gladys (padahal sih nanti telenji-telenji juga x)) Semua perlengkapan untuk di klinik udah siap deh pokoknya. Gue tetep minum air hangat, perasan lemon dan sarapan buah, menu FC gue. Sambil nunggu Gilles mengcancel semuanya gue goyang-goyang aja di atas gym ball sambil membisikkan mantra yang sama ke Gladys dan juga tubuh gue. This is it.. after 9 months we exercise together, now my body, Gladys, and i will do it, we are so ready. My perineum that i have been massaged almost everyday since 36 weeks pregnancy, my hip and pelvic that have been flexible through yoga, and the rest is myself…whatever will happen, i accept it as the way it is. Aku berserah atas apapun yang akan terjadi hari ini. Rasanya nyaman, lega, ngga ada ganjalan.

Jam 7.45 akhirnya kitapun berangkat ke klinik. Sebenernya klinik ini sebelahan sama rumah sakit juga sih, masih satu kompleks sama rumah sakit besar. Cuss langsung kita ditransfer ke bagian persalinan, dari sini ibu ngga bisa ikut masuk. Disni kita lepas sepatu dan ganti sepatu klinik. Ada satu pasangan yang lagi nunggu juga. Kontraksi gue makin hebat dan makin sulit untuk memanage emosi gue. Gue bisa lihat Gilles sedikit gugup sama gue. Dia jadi spesialis ngelus-ngelus punggung sejak tadi pagi. Jadi tiap kontraksi dateng gue langsung ngasih kode ke dia buat usap-usap punggung bawah gue. Dia peluk gue dari belakang, rasanya enak banget tapi kontraksi yang dateng makin lebih hebat. Setelah 15 menit nunggu kitapun ditransfer ke pra-ruang persalinan.

Jam 8.30 pagi Di ruang pra-persalinan ini detak jantung ibu dan bayi diperiksa, begitu juga bukaannya. Ternyata, baru bukaan 3 pemirsa, okey.. padahal gue udah mengira bukaan 5 😥 Alhamdulillah djj dan dji normal. Berbekal kursus persalinan sebulan sebelumnya, Gilles langsung ambil gym ball yg emang kita bawa khusus untuk di klinik. Sebenernya mereka juga sediain gym ball tapi karena hari itu buanyaaaak banget yang lahiran sedangkan jumlah gym ball yang ada di klinik ga memadai. Setelah periksa detak jantung, guepun langsung duduk lagi di atas gym ball dan jalan-jalan. Akhirnya kitapun ke tempat ibu. Peluk ibu yang kenceng dan minta restunya, minta maaf semua kesalahanku dan minta dido’akan semuanya lancar. Abis itu kita balik lagi ke ruangan tadi. Dari ruangan-ruangan lain terdengar banyak teriakan dan jeritan melahirkan, duh kok ya aku jadi ciut lagi. Meditasi dan komunikasi dengan Gladys adalah salah satu cara untuk gue biar tetep fokus. Sekarang tiap putaran pinggul di atas gym ball, gue bisa merasakan kepala Gladys turun sedikit demi sedikit dan setelahnya nyeri kontraksi akan datang selama kurang lebih 2 menit dan Gilles pun akan mengusap-usap punggungku. Begitu terus… sampai akhirnya jam 11, bidan meminta kami masuk ke ruang bersalin. Iya, selama tadi kita nunggu gue ngga tiduran di kasur tapi duduk di atas bola atau berdiri, ini penting banget. Ini salah satu ilmu dari Gentle Birth yang akan selalu gue inget, be active.. don’t just lay down on the bed. Kenapa? Inget prinsip gravitasi kan? Dengan kita berdiri akan memudahkan kepala bayi turun dengan posisi ini kita banyak membantu bayi untuk mencari jalan lahirnya sendiri, baby is very intelligent, ladies, she knows when and how to find the way. Jadi, please yah percaya sama bayimu jangan hanya percaya nakesmu (tenaga kesehatan)

Jam 11 siang, cek bukaan, udah 6. Oh my gosh, aku hauuuuuus. Gilles siap dengan kamera, water spray, air minum, anduk kecil dan printilan lainnya. Lagi lagi gue kurang bisa memanage emosi, tiap kali gue ngomong ke Gilles selalu terburu-buru dan cenderung dengan tone tinggi, ngga bagus ya ibu-ibu.. yang ini jangan dicontoh! Cek detak jantung lagi, all normal. Kami ditinggal lagi sama bidan sampai bukaan lengkap. Kali ini rasanya gue udah ngga sanggup turun dari tempat tidur, akhirnya posisi tempat tidurnya yg gue rubah, menjadi posisi duduk, yup! Again, remember that gravitation rule? this is what i was doing. Gladys selain bisa mencari jalan lahirnya dia juga perlu posisi bagus dari gue. Kalo posisi gue berbaring ngga mudah untuk dia meluncur turun, lebih mudah kalo posisi gue berdiri atau duduk. Gue ga pake gym ball lagi, sekarang gue lebih mendengarkan afirmasi positif dan relaksasi. Beberapa kali gue tertidur di antara jeda kontraksi. Kadang perasaan ingin mengejan datang tapi gue cukup bernafas dengan perut secara teratur supaya gue sadar belum saatnya gue mengejan, i don’t know why my body tells that. Sejam kemudian, setelah beberapa kali ketiduran, bidan dateng lagi

Jam 12 siang lewat sedikit, bukaan lengkap. Cek detak jantung lagi, semua normal. Bidannya ada 2. Mereka baik banget. Mereka bilang gini setelah liat my vagina, wow! you have prepared your body very well!! this is gonna be so fun | vous avez bien prepare, tres tres bien, c’est agreable. I was like fyuhhhhh…….merci gentle birth groupies!

Okay and here we go… these two midwifes told me, push whenever you want to push.. inhale and exhale just until the end. Bu ibu yang mau melahirkan, disinilah praktek pernafasan perut dengan benar dan tidak terburu-buru dipraktekan, kalo ngga dibiasain dari awal hamil tentunya ngga segampang itu. So, here it is.. inhale….exhale…inhale…exhale… sometimes i wanted to push, i pushed when i exhale.. teruuuuus nafas begitu, then Gilles said “..we can see the hairs..” mak jaaaaan.. inhale lagi yang banyak…. exhale. 12.25 pm aaaaand…here she is.. Assalamu’allaikum Gladys, Coucou, Bonjour, Hello…Gladys Kirana Alula Depardieu, welcome to the world.

Dan ritual IMD pun dimulai. Gladys ditaro di perutku dan dia mulai merayap ke dadaku sambil jilat-jilat tangannya, kulitku.. ya Allah, it was the most precious moment we have ever had. Beberapa menit kemudian bidan memberitahu kalau tali pusar harus segera dipotong (udah lewat 2 menit) karena kondisi ga memungkinkan untuk penundaan yang lebih lama. Oh well… ngga apa-apa, kita manusia boleh berencana, harus pasrah pada akhirnya, sebenernya pengen menunda pemotongan tali pusar selama mungkin, about 1-2 hours at least selama IMD. Bidan menawarkan ke Gilles untuk memotong tali pusarnya. Yup! it’s Gladys’ papa who cut it. Precious!

Sambil brebes mili menatap Gladys mencoba menghisap puting itu ajaib, sampe si bidan njahit perineum, guenya ngga merasakan apa-apa. Yes, i got episiotomi. Lagi-lagi harus bilang, kalo pada akhirnya kita harus berserah pada proses akhir. Walaupun gue udah rutin pijet perineum, udah diafirmasi bahwa tubuhku itu elastis dan sebagainya tapi pada akhirnya pun ada tindakan medis yang diperlukan. Setidaknya si bidan memberitahu dan bertanya dulu ke gue, persis seperti yang sama-sama kita sepakati.

Kurang lebih 3 jam gue dan Gladys dibiarkan berdua (ya papanya juga di samping gue, bolak-balik nerima telfon). Gladys belum nyusu, baru jilat-jilat puting aja. I’m telling, i wasn’t worry! Berkat grup FB AIMI, gue tahu bahwa bayi dapat bertahan hidup 2 hari tanpa minum susu dan WAJAR kalo air susu itu ngga langsung keluar saat itu juga. Kuncinya sering-sering disusuin atau in this case dijejelin putingnya ke bayi, ini akan menstimulasi produksi ASI. I was relax, santai..relieve, lega so that love hormones came .

So, that’s it.. my birth story, i was blessed that i’m loving every single of my body work for us, Gladys and i. During the pregnancy, i highlighted that gentle birth is not something you look for in hospital, clinic, midwife, gynecolog, or in the methods, water birth, home birth, normal birth, but it is a phylosophy to minimize trauma that you must work out and always remember when i say YOU, you are not alone, there is your body and your baby not depend on the method or your health provider.

   DSCN3236    DSCN3233.JPG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s