Langtang & Helambu Trekking

Hello, this time i will write it in my language, bahasa Indonesia.

Ini trekking paling berkesan buat gue, karena ini pertama kalinya gue trekking dengan model ‘tea house trekking’ (which common in Himalaya). Tea house trekking adalah trekking yang umumnya lebih dari 3 hari (sayang aja kalo udah jauh-jauh ke Himaya, eh trekkingnya cuma 3 hari) dengan bermalam di desa yang kebanyakan diberdayakan oleh pemerintahan negara tersebut, selain untuk mengakomodir turis/trekker juga sebagai sumber penghasilan penduduk. Jadi, ngerti kan kenapa ini berkesan? Iya, karena selain ngga usah repot-repot bawa tenda, nesting, kompor dan teman-temannya, kita juga selalu berinteraksi dengan penduduk di Himalaya yang sederhana dan bersahajanya minta ampun.

Ada banyak pilihan trekking di Nepal untuk range Himalaya. Panduan yang kami (saya dan suami) pakai adalah Trekking in Nepal Himalaya versinya Lonely Planet. Lumayan lengkap dan layak untuk jadi panduan karena ada rekomendasi berdasarkan tingkat kesulitannya. Kita pilih trek ini karena memang belum berencana untuk ke EBC, masih jauh kayaknya untuk mencapai kesana. Kebetulan saya dan suami pun ga terlalu berambisi menjadi trekker sejati yang HARUS menunaikan ibadah trekking ke EBC. Langtang & Helambu (LH) adalah trek populer nomor 3 berdasarkan rating LP, nomor 2 nya? Annapurna. Annapurna pun ada beberapa trekking loop yang bisa dilakukan (sanctuary, panorama atau poonhill, dan 1 lagi saya lupa). Karena Gilles sudah pernah ke Annapurna, kurang klop rasanya kalau kita pilih ini. Kita lebih suka pergi ke tempat yang sama sekali baru untuk kita biar bisa eksplorasi bareng-bareng. Akhirnya pilihan jatuh ke LH, selain karena trek ini baru untuk kami, lamanya trekking dan tingkat kesulitannya pun cocok sama kami berdua.

Jalur Trekking

Kira-kira begini peta jalur lengkapnya Langtang & Helambu. Mohon maaf banget kurang berdedikasi untuk masalah perpetaan yang baik dan benar, pengennya sih lebih bagus foto petanya, apa daya waktunya kurang cukup buat irt sok sibuk kayak gue. Semoga dimengerti ya petanya. Kita bakal start dari Dhunche (foto 1 dari kiri) – Thulo Barkhu – Syabru Besi (rencana awal tapi akhirnya motong langsung ke Thulo Syabru) – Bamboo – Changdang – Kyanjin Gompa

Kemudian Thulo Syabru – arah selatan jalur ke Gosaikund – Sing Gompa – Gosaikund

Ejaan mungkin ada yang salah, yah maklum penulis cuma mengandalkan kuping aja, mengcopy dari orang lokal melafalkannya ūüėÄ

DSCN3390 DSCN3388 DSCN3389

Perizinan

Ngurus perizinan aslinya sih ngga rebyek ya, yang bikin rebyek itu adalah transportasi di Kathmandu. Pagi hari kita ke Durbar Square jalan kaki. Selain human activity di Kathmandu ini menarik juga karena susah cari taksi. Di Durbar kita ngga masuk ke temple manapun, cuma keliling di sekitarnya saja, untuk masuk temple lumayan mahal apalagi waktu itu sedang ada perayaan untuk dewi (entah siapa). Dari situ kita lanjut ke Freak Street. Freak street ini dulunya adalah jantungnya kawasan turis, berbeda dengan Thamel, atmosfernya Thamel tuh lebih ke para trekker sedangkan Freak street lebih ke hippie (menurut gue doang sih). Anyway, di Freak street kita cuma lewat doang, jalan kaki, agak males singgah ke resto atau sekedar nongkrong. Next, misi utama, yaitu daftar ke kantor semacam dinas pariwisata gitu, setelah jalan kaki cukup jauh ditambahnyasar-nyasar akibat skala peta yg kekecilan dan nama jalan ada yang berubah sampailah kita di kantor ini untuk daftar. Gampang kok tinggal bilang kalo kita independent trekker (ngga pakai guide), terus nanti kita disuruh isi formulir dan disuruh lampirin rencana perjalanan singkat kita. Kalo sempet jangan lupa siapin pas foto, kalau ngga sempet sekitar 700m dari kantor itu ada pas foto yang udah biasa bikin foto untuk visa dan izin trekking. Di kantor ini kita bayar 1000 Rn dan nanti di pintu masuk National Park kita harus bayar 2000 Rn. Kelar dari situ, dapet katu trekker, rasanya plong bisa berangkat kapan aja. Tadinya mau berangkat besoknya tapi kita masih mau memantapkan rencana perjalanan dulu sebelum berangkat, jadilah molor sehari sambil leyeh-leyeh di Thamel

Day 1 Kathmandu-Dunche

9am-4pm (by bus)

Rencana berangkat pagi jam 7 dari the famous ‘Kathmandu Guesthouse’ masih berjalan mulus. Beberapa barang kami tinggalkan disini yang ngga ada gunanya selama trekking. Dari hotel kita naik taksi (setelah ditawar tentunya) ke terminal yang berada di utara kota. Tujuan kami hari pertama adalah Dunche, kami akan bermalam disitu kalau bis sampainya terlambat. Kalau masih ada bis dari Dunche ke Syabru Besi barulah kami akan bermalam disana. Sampe terminal agak kepagian (jadwal bis berangkat jam 9), but it’s okay. Nanti setelah kami kembali lagi ke Thamel bahwa ada bis untuk turis yang harganya lebih mahal tapi lebih nyaman. Untuk ke Dunche, karena 2 manusia ini kurang informasi, jadilah kita naik bis ekonomi bareng sama mbok-mbok bersari. Untungnya sih kita berdua dapet bangku jadi bisa bobok2 bau keringet di bis. Setelah 8 jam lamanya di bis, melewati jalan berliku dan banyak lobang, sesekali melintas di bawah tebing yang rawan longsor, nyampe juga di Dunche. Ternyata memang ngga ada bis ke Syabru Besi, kebanyakan turis nyewa jeep dari Kathmandu untuk ke SB. Alhasil kita menginap di Dunche sambil mempersiapkan diri untuk jalan kaki besok ke SB. Yang masih gue inget ampe sekarang momo yang disini enak banget, ngga seenak di tempat-tempat yang lebih tinggi nantinya, ngga tau deh kenapa, mungkin karena pakai msg ya ūüėÄ

 Day 2  Trekking: Dunche-Brabal-Thulo Syabru-Bamboo

5am-6pm

Berangkat pagi banget jam 5, cuma minum air hangat dan makan pisang. Di antara semua trekking yang paling bikin sakit hati adalah jalan kaki padahal itu jalan bisa dilewatin mobil. Haha.. rasanya tiap mobil lewat tuh beban di keril nambah sekilo. Yah sudahlah ya, ambil keringetnya aja. Gilles juga merasakan kedongkolan yang sama gue yakin, makanya dia buru-buru buka peta untuk lihat shortcut ke Tulo Syabru tanpa harus melewati Syabru Besi. Memang ada jalan dari Thulo Barku-TB (kota kecil sebelum Syabru Besi-SB) menuju ke trek Langtang. ¬†trek ini nantinya akan membawa kita ke Thulo Syabru (TB) tanpa harus lewat SB, ngga lebih pendek juga sih sebenernya hanya saja jalur yang dilintasi adalah jalan setapak, lebih enak aja ketimbang jalan besar. Jadi setelah sarapan resmi di ¬†TB, mendaki lah kita ke atas dengan tujuan TS untuk makan siang. Mulai dari sini kita jalan di jalan setapak yang cukup dilewati untuk 3 orang, ngga terlalu lebar tapi juga cukup jelas seandainya harus jalan tanpa guide atau porter. Tanda-tanda selama perjalanan sangat minim tapi yang pasti jalur hanya ada 1 menuju ke TS. Dengan pole trekking akan sangat membantu perjalanan mengingat medan yang menanjak dan berbatu. Kadang bisa santai sejenak kalau jalurnya terlindungi pohon-pohon, dari tanah dan datar. Ternyata sudah hampir jam makan siang kami belum sampai di TS, setelah lihat peta, sepertinya lebih bijak kalau kita berhenti di Brabal. Tadinya sih mau brunch di sebuah tea house yang tertera di peta (sebelum Brabal) tapi mungkin karena low season, tea house ini tutup jadinya kita lanjut ke Brabal. Brabal hanyalah sebuah ‘model village’ yang dibuat oleh pemerintah untuk membantu perekonomian penduduk sekitar. Model village bukanlah kampung sebenarnya, kalau kita beruntung saat low season ada 1-2 restoran dan lodge yang buka, seperti kami hari itu. Green jungle view restoran menjadi satu-satunya restoran yang buka di Brabal saat itu. Kami pun berhenti untuk makan dan ngeteh cantik. Kami tiba di TS sekitar pukul 2-3 siang. Disini kami beristirahat sekalian nanya-nanya dan orientasi harga hotel, karena nanti rencananya untuk ke Gosaikund, dari sinilah awal trekking dan kamipun berencana menginap disini nantinya.
TS ternyata sebuah desa ‘beneran’, ngga kayak Brabal. Letak desa ini di tepi lembah, cakep deh.. jadi keliatan dari jauh rumah-rumah berjejalan di sepanjang punggungan gitu. Anyway, perjalanan masih dilanjut. Setelah TS jalurnya akan menurun karena kita akan menyebrangi lembah besar yang pertama, setelah itu naik dan kemudian turun lagi karena jalur berada di sisi sungai besar. Entah apa yang membuat kami agak kepedean dalam menentukan target: bermalam di ‘Langtang View Lodge’. Kenyataannya, naik turun lembah dan menusuri sungai sangatlah melelahkan ditambah terik matahari hari itu, akhirnya target diturunin menjadi ‘bermalam di bamboo’ yang kalau di peta satu penginapan sebelum Langtang View Lodge. Sebenernya kami bisa saja berhenti di.. satu penginapan sebelum bamboo. Saat itu belum sore-sore amat, baru jam 5.¬†Tapi sekali lagi kami berpikir… ah sayang abis ini bamboo. Ternyata, trek menuju bamboo sangatlah panjang. Kami masih berada di jalur di sisi sungai tapi kembali naik dan turun dan melintasi hutan. Setelah capek luar biasa, gue memutuskan berhenti sebentar dan memaksa Gill jalan duluan untuk melihat apakah bamboo lodge ini benar adanya atau hanya fatamorgana. Setelah 10 menit penuh kekhawatiran akhirnya Gill kembali tanpa tas dan senyum lebar di wajah, mengabarkan “lodge bamboo is just 5 minutes away and we got free hot shower !” –> that’s my husband, bargain is his speacialty.

Photos from along the trek of day 1

DSCN2325 DSCN2333 DSCN2341 DSCN2359DSCN2361 DSCN2346

Day 3  Trekking: Bamboo-Rimche-Lama Hotel (Changdam)-River side-Ghodatabela-Thangsyap

8am-4pm

Setelah semalem mandi air panas, minum teh, dan makan malem sup, enaak banget badan rasanya walaupun remuk redam sesungguhnya. Hari ini kita ngga mau ngoyo, trekking maksimal 6-8 jam aja per hari, udah komitmen mau lebih menikmati view dan suasananya, ngga mau kayak kemaren yang trekkingnya kayak dikejar-kejar hantu sampe total lebih dr 12 jam kita di jalan. Start dari Bamboo jam 8, lumayan berat treknya untuk sampe ke Rimche, setelah sampe di Rimche kira-kira 2 jam kemudian, kita pesen teh anget sebelum melanjutkan ke Riverside dimana kita akan lunch. Disini kita ketemu sama cewek singapore yang ditemenin sama guide dan porternya yang nanti selanjutnya bakal nginep bareng di Thangsyap. Karena saat itu low season, sepanjang perjalanan kalau kita bertemu dengan orang lokal, selalu saja ada yang nawarin kamar gratis untuk di Langtan dan desa-desa lain yang lebih tinggi. Itulah salah satu untungnya pergi pas low season. Untuk sementara cuaca masih bersahabat. Berawan tapi langit masih keliatan biru, ngga terlalu terik, dan biasanya gerimis mulai turun di malam hari. Di Riverside dengan ketinggian 2769m saja kita udah bisa melihat Yak yang lagi ngerumput di sebrang sungai. Pemandangan yang lumayan cantik buat dinikmati saat makan siang. Trek dari Rimche sampai setelah River side bisa dikategorikan cukup mudah, landai cenderung datar, hanya saja panjang dan berliku-liku serta selalu berada di dalam hutan. Sesaat sebelum sampai di Ghodatabela (cek point oleh militer) barulah jalur berubah dari yang tadinya selalu terlindungi oleh pohon-pohon besar menjadi terbuka. Pemandangan lembah himalaya pun jelas terlihat sekarang, sayangnya mendung mulai menggantung, awan hitam menggelayut di arah yang akan kita tuju. Selepas Ghodatabela, jalur mulai berat, berbatu dan menanjak. Angin yang cukup kencang ternyata menyulitkan kami. Thangsyap sudah di depan mata, di atas sana tapi jalur yang harus didaki lumayan terjal dengan jarak pandang¬†yang dengan cepat berubah menjadi 3-5m saja. Perubahan cuaca yang sangat cepat yang kayak gini yang harus diantisipasi saat ke Himalaya pas low season. Akhirnya setelah susah payah kamipun sampai di Thangsyap, ngga lama-lama, hostel pertama yang kita lihat itulah yang langsung kita tempati, selain itu juga karena kami lihat si cewek singapore itu juga nginep di hostel tsb. Usut punya usut ternyata pemilik hostel masih keluarga dengan guidenya, lumayan banget, kita dapat free room dan hot shower, jadi tinggal bayar makan aja. Malam itu kita dijamu oleh pemilik hostel alkohol yang terbuat dari fermentasi barley, lumayan buat bikin anget katanya, she was very friendly but i must say, alcohol is not my thing especially in high altitude, i prefer coca tea that we brought from south america ūüėÄ

DSCN2384 DSCN2377DSCN2385 DSCN2391  DSCN2397 DSCN2396

Day 4  Trekking: Thangsyap-Langtang-Kyanjin Gompa

7am-3pm

Hari ke-4.. cuaca lumayan cerah setelah diguyur hujan semalam. Kita berangkat agak lebih pagi, jam 7 tapi mbak singapore dan rombongannya udah berangkat lebih pagi dari kami. Hari ini targetnya menuju Kyanjin Gompa, anyway it’s the last village in Langtang trek. Bisa sih lanjut lebih jauh kaya si mbak sing, tapi bukan tea house trekking lagi namanya, tapi ekspedisi karena jarak desa selanjutnya cukup amat jauh, dimana dalam ekspedisi elo harus sudah siapkan semua logistik dari bawah karena bahan makanan dari desa terdekat biasanya ngga bisa diandalkan, lagian kan mereka juga perlu bahan makanan untuk menjamu para turis. Hari ini trekkingnya udah super santai, badan udah mulai pegel-pegel dan sebagai perempuan gue udah merasakan gejala-gejala pms yang menghampiri, hihi.. jadi i knew i better take my time daripada ngedumel sepanjang trekking. Selepas Thangsyap treknya bisa dibilang cukup mudah, jalur berada di punggungan yang sangat terbuka, menggugah selera untuk foto-foto berlatar belakang gunung bersalju. Waspada angin kencang, jadi walaupun sinar matahari terik gue tetep pake wind stopper. Kadangkala kita berpapasan dengan mas-mas tukang kayu yang menggendong kayu dari Ghodatabela untuk bangun rumah, lumayan buat jadi objek foto menarik. Seharusnya kita bisa sampe lebih cepet hanya saja angin yang semakin kenceng bener-bener menyulitkan perjalanan, selepas desa Langtang. Tadinya mau makan siang di Langtang sambil menikmati view yang spektakuler dengan lokasinya yang berada di lembah memang Langtang menjadi magnet para trekker yang melakukan jalur ini, yang paling populer adalah puncak Langtang Lirung dengan ketinggian sekitar 7000m (not our kind of trekking). Saat kita sampai masih terlalu dini untuk makan siang lagipula lagi-lagi karena low season banyak restoran dan cafe yang tutup. Perjalanan ke KG makin dirasa berat, suara angin yang menderu-deru bikin kami gelagapan dalam melanjutkan trekking, ngga ada pilihan lain karena saat itu kita melewati desa terakhir sebelum KG. Akhirnya sekitar jam 3-4 sore sampailah kita di KG. Sempet nyari hostel yang dijanjiin free room oleh pemiliknya yang kebetulan berpapasan waktu kita di desa Langtang, tapi sayang ngga ketemu atau memang kita terlalu malas untuk jalan lebih jauh lagi. Pilihan kali ini jatuh ke Lovely Guest House, entah kenapa wanita muda pemilik hostel begitu simpatik saat melihat kita datang, simpatik banget karena yang pertama ditawarin adalah: i can give you free room and 10% discount for all meals :)))) Pilihan kami emang ngga salah, hostelnya begitu charming, cuma ada hanya 4 kamar saja dan saat itu hanya ada 2 turis lainnya. Yang bikin kami seneng dengan hostel ini adalah ruang makannya yang merangkap ruang santai karena ada bangku panjang buat bobo2an dan yang spesial ada tungku penghangat ruangan di tengah2 ruangan, pas lah alhasil sesorean itupun kita menghabiskan waktu banyak di ruang makan, ngeriung di depan penghangat¬†dengan memesan berpoci2 teh anget, ga apa2 kan diskon 10%!!

DSCN2405 DSCN2401

 DSCN2423 DSCN2400

DSCN2410 DSCN2415

DSCN2437 DSCN2407

Day 5 Trekking: around Kyanjin Gompa (North)

Jadi total 3 malam kami menginap di Lovely Guest House ini. Hari selanjutnya yaitu hari ke-5 kita trekking yang deket-deket aja. Pagi sebelum trekking gue berhasil nyuci baju gue di tengah kencengnya angin pagi, mumpung bakal stay lama disini ga ada salahnya gue cuci baju. Gill kekeuh mau nyuci bajunya di hari ke-7.. ya udahlah ya, di gunung ini toh kita kalo trekking jalannya jauh2an jadi ga terdeteksi juga bau acem bajunya dia. Tadinya mau ke glacier yang ada di Utara KG tapi baru jalan sebentar kok gue udah capek ya, akhirnya gue duduk-duduk di padang terbuka nontonin gerombolan yak yang lagi sarapan sambil nungguin Gill trekking lebih jauh, ternyata gue ketiduran artinya emang badan gue capek banget setelah 4 hari trekking ditambah cuaca hari itu ngga banget deh, mendung-mendung rese bawaannya pengen ngeteh-ngeteh sambil ngemil dan kemulan selimut. Akhirnya kita balik lagi ke KG dan cuma jalan-jalan sambil liat-liat kayak apa desanya. Desanya luas juga, mungkin hampir sebesar Langtang, disana sini banyak hostel, cafe yang lagi renovasi, memanfaatkan low season. Akhirnya kita mampir ke sebuah rumah yang sign bakerynya terlihat paling pertama saat datang ke desa KG. Eh..pas udah duduk-duduk di dalem pemiliknya bilang kalo sebenernya ini bakery lagi direnovasi (duuuuh..renov aja semuanya) tapi kalo untuk nyeduh kopi dan teh aja sih dia ngga keberatan untuk melayani kami. Sambil nyeruput teh tiba-tiba kok gue kepikiran nelfon nyokap untuk ngabarin mengingat terakhir kali kami ngasih kabar itu waktu di Dunche. Ngga semua rumah punya telfon satelit, di bakery ini selain telfon satelit dia juga menyewakan helikopter (duh amit2 jabang bayi ah, jangan sampe harus dievakuasi pake heli…). Akhirnya nelfonlah gue ke hp nyokap, mahal banget ternyata tapi seneng sih udah bisa ngabarin nyokap. Kelar nelfon dan abis 1 termos teh. Cuss balik lagi ke lovely untuk makan siang yang kesorean, turis yang lain udah pada pulang, jadi ruang makan itu kami kuasai sepanjang hari, haha.

DSCN2437 DSCN2438 DSCN2466 DSCN2460

DSCN2440 DSCN2470

Day 6  Trekking: around Kyanjin Gompa (East)

Day trip go and comeback 8am-3pm

Hari ini badan udah mulai fit dan craving for some nice trek. Setelah liat peta, kayaknya lucu nih kalo kita terus jalan ke timur yang nantinya akan membawa kita ke desa Langsisha kharka. This was good looong walk which following the valley. Lumayan lah buat killing time seharian, treknya santai, viewnya cantik. Walaupun treknya santai, ada baiknya bawa snack atau makanan karena ga kerasa bisa seharian jalan di trek yang kayaknya endless ini. Sambil maem bakalan disuguhin view gerombolan yak yang ngeriung di pinggir sungai Langtang atau berfoto-foto dengan background puncak-puncak saljunya Yala peak dan Tsergo Ri, ah betah deh berlama-lama disini

DSCN2480  DSCN2478   DSCN2510  DSCN2506

DSCN2490 DSCN2474 ???????????????????????????????

DSCN2492  DSCN2471

Day 7  Trekking: Return to Thulo Syabru (Kyanjin Gompa-Changdam)

7am-4pm

It took us 2 days to return to Thulo Syabru (TS), from here we will take other path that goes to Gosaikund. Yess! that lucky thingy looks almost finish karena udah beberapa hari langit mendung terus, angin kenceng dan kadang hujan turun, jadi perjalanan harus dikebut dan emang harusnya untuk turun lebih mudah dan cepat daripada naik, bukan? Pas balik kita

Batu besar bertuliskan mantra dalam sansekerta sebagai welcoming statue sebelum masuk desa Kyanjin Gompa

DSCN2511

View Desa Langtang

DSCN2526 DSCN2528DSCN2531 DSCN2522

DSCN2409 DSCN2538

DSCN2517 DSCN2424     ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? DSCN2535

DSCN2541 DSCN2532

Day 8  Trekking: Changdam -Thulo Syabru

7am-12pm

No photos, it was raining along the way. We got good price for hotel in TS with attached bathroom, hot shower, big bed, balcony. Enough, no complain, just ate more pancakes and drank tea. Lovely. Pemilik hotelnya juga ramah banget. Kami ngobrol panjang tentang banyaknya turis asing (umumnya perempuan yang trekking sendirian). Dari cerita si bapak kami mendapat pandangan lain tentang hal ini, jauh berbeda dari banyak cerita dan rumor yang diberitakan. Padahal nih, di jalur trekking ada beberapa pos militer/tentara. Contohnya di¬†Ghodatabela untuk jalur Langtang, tapi nyatanya ada beberapa kasus perempuan wna hilang di jalur ini (terakhir tahun 2012, warga negara Amerika, terakhir terlihat di Changdam, Lama Hotel). Well.. let’s not spoil this adventure story by thrill and mystery story, okay.

Day 9  Trekking: Thulo Syabru РSing Gompa

6am-12.3opm

Finally, the monsoon is coming in front of us! we were trekking under the rain for about 6 hours. Daann…semuanya basyah, syah, syah. Semua jaket yang ada dipake di badan dan semuanya pun basah. Hujannya sih ngga deres, cuma awet aja ngga ada reda-redanya. Udah gitu antara TS dan Sing Gompa ngga ada tempat perhentian yang strategis. Ada satu desa kecil kira-kira 20-30 menit sebelum SG yang bisa kita mampirin untuk sekedar ngangetin badan, eh tutuuuup. Emang kalo liat penampakannya sih bukan desa beneran cuma ada 2 rumah yang biasanya buka pas high season aja. Disini drama hypothermia gue dimulai. Gue ngga mau dan ngga sanggup jalan lagi. Menurut cerita Gill yang lebih waras dari gue saat itu, tiba-tiba gue duduk dan berhenti aja gitu di tengah jalur, ngelamun, di bawah guyuran ujan :D. Untung Gill nengok-nengok ke belakang kalo engga, bablas terus dia sampe SG tanpa diriku. Pendek cerita akhirnya gue kembali ke alam sadar dan jalan lagi sampai ke SG dengan selamat sentosa dalam keadaan menggigil. Di pikiran kita cuma satu, nyari hostel dan rumah makan yang ada penghangat di tengah-tengah ruangan. Pilihan jatuh ke Red Panda Hotel yang hangat dan juga pemiliknya yang ramah. Kali ini bukan free room lagi tapi bayar serelanya. Tertulis di daftar menu kalau amatlah sulit mengangkut bahan makanan dari bawah ke SG jadi diharapkan keikhlasannya menyumbang. Memang lah ya, orang-orang Nepal ini bersahajanya minta ampun, kamar yang anget walaupu sederhana aja dicharge terserah kita, untuk bayarnya aja disediain kayak kotak amal di resepsionisnya ūüė•

Di Red Panda Hotel kita ketemu banyak banget turis lokal beda banget sama 9 hari belakangan yang biasanya selalu kita aja berdua, ternyata memang ada festival di Gosaikund dan besok adalah hari terakhir sembahyang disana, makanya ngga heran banyak banget ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek, kakek-kakek, mas-mas, mba-mba yang trekking ke atas, yup ngga ada jalan lain harus trekking kesana kurang lebih 8 jam!! Mungkin kalo cuaca lebih bagus bisa lebih cepat tapi trek kesana pun cukup menantang.

View of Sing Gompa and Red Panda Hotel in cloudy day. First photo on the left was the sky when we started trekking from TS, not very nice

DSCN2542 DSCN2547

DSCN2550 DSCN2551

Day 10  Trekking: Sing Gompa РGosaikund

8am-5pm

Berat banget sebenernya untuk jalan lagi tapi.. Gosaikund terlalu cakep untuk dilewatkan walaupun cuacanya udah jelek begini, kita masih menyimpan harapan nanti pas udah sampe sana cuaca akan membaik. Yess, a bit too much, but hey it was just a hope, anyway. Di sepanjang jalan kita banyak ketemu peziarah yang mau dateng ke festival Gosaikund. Yang bikin kita kaget adalah kebanyakan peziarah adalah lansia (usia 50 tahun ke atas) dan perempuan, yang bikin lebih kaget adalah mereka trekking dengan baju sari mereka, beralaskan sendal teplek ibu-ibu, tas jinjing tangan dan hanya mengandalkan ponco tipis yang banyak dijual di indomaret (kalo di Indonesia) sebagai pelindung hujan… woahh. Ini gila dan nekat sekali! pastilah panggilan iman mereka untuk berdoa di Gosaikund lebih kuat ketimbang alasan keselamatan untuk mereka sendiri. Pendek cerita, setelah trek yang lama-lama makin sulit karena hujan dan angin yang makin kencang juga jalur yang menyempit di pinggir tebing, sampailah kita di Gosaikund, sudah hampir jam 6 sore waktu kita tiba di hotel yang pertama kita lihat. Ngga banyak basa basi, kita langsung masuk ke restorannya dimana ada kompor besar di tengah-tengah ruangan. Ternyata udah banyak orang berdesakan untuk menghangatkan diri dan mengeringkan semua yang basah di badan. Beruntung kita dapat kamar private terakhir yang tersisa (ada dormitory juga). Setelah anget gue langsung pesan teh, teh dan teh, ngga lupa dhal untuk makan malam.

Pengalaman menginap disini dirasa kurang nyaman, mungkin karena banyaknya turis lokal yang mau berziarah dan berdoa, jadi hotel dan restoran berisik sekali, begitu juga dengan kamar mandi. Sudah terkenal deh kalo toilet umum di negara-negara Asia Selatan (di Indonesia juga loh) pada umumnya (pada umumnya ya, bukan semuanya) jorok-jorok, nah kurang lebih toilet disini juga gitu, menurut gue sih karena kebetulan aja pas kali ini lebih banyak turis lokalnya. Ada cerita lucu waktu nginep disini. Jadi, kami¬†itu kalo trekking hampir selalu bawa pluit pramuka sebagai salah satu safety equipment. Alhamdulillah, sama sekali ngga kepake sepanjang trekking karena kita selalu berada di jalur dan ngga pernah terpisah satu sama lain. Tapi di hotel ini terpaksa gue pake karena para peziarah ini berisik banget dan kita ngga bisa di tidur di kamar bawah. Yang paling berisik emang dormitory sih yang sialnya tepat di atas kamar kita. Malem itu udah lewat tengah malem tapi mereka masih ngobrol dengan suara kenceng, akhirnya priiiiiiiiiiit! suara priwitan melengking panjang dan langsung hening, pemirsa….. walaupun sekejap doang, semenit kemudian merka pun berisik lagi :’D

DSCN2559 DSCN2556 DSCN2548  DSCN2561 DSCN2562 DSCN2563

Day 11 Gosaikund dan Festivalnya

Seharian hujan es!! Kami ngga kemana-mana sepagian, sayang banget padahal ada jalur-jalur pendek untuk day trekking di sekitar hotel. Akhirnya setelah ngumpulin mood untuk keluar dan nunggu ujan reda lamaaaa banget, kamipun turun untuk menyambangi Gosaikund. Karena demi si danau inilah kami rela trekking sambil menggigil. Bareng sama keluarga yang akhirnya jadi teman kami (nginep di hotel mereka di Thulo Syabru), kamipun turun. Teman kami di TS yang Budhist memasang bendera doa, sementara teman lain yang Hindhu, mereka berdo’a. Ngga jadi masalah. Ngga ada klaim festival ini milik agama yang mana, peziarah pun juga begitu, tak jadi soal agama mana yang dipeluk, semua memanfaatkan kesempatan ini untuk merayakan sekaligus menghembuskan harapan masing-masing.. untuk dunia yang lebih damai, mungkin (?)

DSCN2575 DSCN2570 DSCN2574 DSCN2569 DSCN2565  DSCN2572 ??????????????????????????????? DSCN2577 DSCN2585 DSCN2587 DSCN2593

Day 12 Return to Dhunche

6am-4pm

Sebenernya rencana awal adalah meneruskan jalur Helambu (Gosaikund termasuk jalur Helambu), melewati Laurebina Pas (4700mdpl) kemudian terus ke Selatan ke Chisopani dimana dari sini ada transport untuk ke Kathmandu. Tapi melihat cuaca yang ngga kunjung membaik, kami urung. Ngga mau ambil resiko terlalu jauh apalagi trek tersebut tidak selebar trek-trek sebelumnya, ditambah hujan dan kabut yang seringkali menyulitkan perjalanan. Apa boleh buat, kami kembali ke Dhunche, agak kurang srek emang kalo harus pulang melewati jalur yang sama tapi kali ini sepertinya kami ngga punya pilihan yang lebih baik. Kami lumayan ngebut jalannya, cenderung setengah lari, maklum turunan, trekking pole amat sangat ngebantu buat turunan gini, jalurnya tanah liat licin dan bertangga. Sampe Dimsa, kami agak pelan sedikit, karena mau cari warung teh. Ngga jauh dari Dimsa ada pos militer, ada banyak papan larangan untuk ambil foto. Liat pos militer ini jadi inget ceritanya si bapak pemilik hotel di TS. Belum lama pun, ada wna Prancis yang hilang kemudian ditemukan sudah meninggal di trek ini, tepatnya antara Dhunche РSing Gompa dan seperti cerita-cerita yang lalu, ngga ada satupun pelaku yang tertangkap. Tuh kan..jadi cerita misteri lagi deh.

Sampe Dhunche, buru-buru beli tiket bis untuk ke Kathmandu besok, paling pagi dan eksekutip! Kemudian karena punya waktu banyak kami menyeleksi hotel lebih lama, maunya yang ada air panasnya, lumayan banget untuk ngilangin capek dan pegel-pegel. Lumayan lah, dapet hotelnya dengan harga yang oke.

DSCN2599  DSCN2600

Day 13 Return to Thamel

Jam 7.30 pagi, kita udah sarapan, udah bersih udah rapi jali nunggu bus yang rencananya berangkat jam 8. Lumayan lega, karena kali ini naik bis eksekutip, udah pasti dapet tempat dan ga ada desek-desekan, cuss.. berangkatnya pun tepat waktu. Setelah lapor di pos militer, berangkatlah kita. Rasanya ngga percaya udah mau balik ke Kathmandu, rasanya cepet banget trekking 12 hari pulang-pergi dan sejuta lamunan lainnya di pagi hari yang malang melintang di pikiran. Cuacanya mendukun banget buat bobo-bobo pagi di bis. Baru mau lerr…eh bis berhenti cukup lama, rupanya ada antrian panjang. Setelah nanya-nanya penumpang lain, ternyata ada jalan yang putus akibat hujan besar beberapa hari ini.. oh well, the stry doesn’t finish here. Kamipun akhirnya penasaran melihat si jalan putus itu setelah 15 menit bosen duduk dalem bis. Jalan yang putus emang parah banget, walaupun banyak penumpang lain dari bis lain yang kerja bakti mbenerin jalan putus secara darurat, tetep ajalah susah untuk dilewati (kalo gini jadi inget pengalaman jalan putus di Tambora deh.. eh jadi ngga fokus kan). Dengan berat hati, kamipun mengikuti jejak penumpang lain dan saran dari supir bis untuk JALAN KAKI karena ternyata ngga cuma disitu jalan rusaknya, ada lagi disana, disana, dan disana :((( Keki dengan harga bis eksekutip yang udah dibayar kamipun komplain, si supir ngga bisa apa-apa, yang jelas duit ngga bisa dikembaliin penuh tapi dia janji akan ada bis eksekutip lain (koleganya, pemirsa) yang akan nunggu kita di ujung sana (iya dia ngga bisa bilang dimana karena dia sendiri ngga tau sampe dimana jalan ini terputus). Akhirnya drama jalan kaki pun dimulai. Setelah jalan kira-kira 2 jam mungkin ya, dari kejauhan kita lihat ada truk dengan bak besar. Gue juga lihat satu per satu orang naik ke bak besar.. wah ada tumpangan! kamipun buru-buru jalannya, ngalahin turis dan penduduk lain. Beruntung! bisa diangkut ini truk, naiknya susah juga itu ke bak.. lumayan menghemat jalan kaki, mungkin ada kali ya 8-10km. Pendek cerita, akhirnya ada bis eksekutip yang tela menunggu kami. Senangnya! Begitu bis jalan, langsung tidur gue. Bangun-bangun udah sampe Kathmandu, kira-kira jam 5 sore. Ah..lega, selamat sentosa sampe di Kathmandu lagi.

DSCN2604  DSCN2605

DSCN2607 DSCN2608

DSCN2609 DSCN2610

DSCN2612 DSCN2613

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s