The ‘Whatever’ Weeks Miracle

Tanggal 24 Juli 2013 bagaimanapun juga pernah menjadi hari terindah untuk aku dan suami. Hari itu, setelah terlambat haid dua minggu dan dua kali (+) dari test pack aku memutuskan menemui obgynku di Klinik Yasmin, dr. Gita Pratama. Beliau terkejut ketika aku beritahu sudah telat haid dua minggu, jangankan dia akupun terkejut bukan main. Pasalnya aku dan suami termasuk ke dalam kategori pasangan ‘kurang subur’ dan memang sudah berkonsultasi tentang program bayi tabung atau dikenal dengan IVF (In Vitro Fertilization) di klinik tersebut. Penasaran, dr. Gita pun siap dengan USGnya untuk melihat keadaan di rahim. Dari USG memang terlihat ada penebalan dinding rahim yang merupakan penanda adanya kehamilan tapi saat itu dr. Gita masih kurang yakin akan posisi kantong hamil. Setelah beberapa menit mengobservasi, akhirnya dengan ragu-ragu beliau menunjuk sebuah rongga hitam dalam rahim sambil berujar “mungkin ini ya kantong hamilnya, masih kecil sekali”. Selesai USG, dr. Gita memberiku rujukan untuk melakukan tes kadar beta HCG. Hormon yang dikenal sebagai hormon awal kehamilan ini normalnya akan meningkat seiring waktu sang janin berkembang. Bergegaslah aku ke laboratorium patologi untuk melakukan tes tersebut. Selang beberapa jam kemudian, dr. Tulus dari klinik Yasmin menelfonku mengabari bahwa hasil lab memang menunjukkan adanya kadar betaHCG yang tinggi yang artinya aku memang hamil. God! Subhanallah… It was the best day of our life, whole day we only think about it. Pregnant has become a magical word for us. Satu hari setelah kabar itu flek merah mulai keluar dari pagi. Khawatir mulai datang, langsung aku sms dr. Gita. Beliau menyarankan kalau saya tes bHCG lagi besoknya (min. 48 jam), kalau hasilnya menunjukkan peningkatan bHCG artinya janin berkembang normal tapi kalau hasilnya menurun atau statis kemungkinan besar janin tidak berkembang. Dengan dagdigdug menunggu besok aku istirahat di rumah, flek berganti darah yang semakin lama semakin banyak. Saya terus melatih relaksasi dengan menanamkan affirmasi positif tapi darah tak kunjung berhenti. Akhirnya esok pagi kembali kusms dokter, bilang mau bertemu karena darah yang keluar semakin banyak. Sampai di klinik Yasmin aku langsung menuju lab patologi untuk kembali tes darah. Kemudian aku memutuskan untuk menunggu di restoran sambil membaca buku dan sesekali melatih relaksasi, walaupun memberikan rasa tenang tapi darah tak mau berhenti. Saat itu dalam hati aku berucap, ya Allah atas ijinMu aku hamil dan sesungguhnya kami bukanlah pemilik kekal dari apapun yang telah Kau percayakan, kemudian dengan sendirinya kata-kataku mengalir di dalam hati sambil terus memegangi perut; Nak.. maafkan Ibu kalau saat ini kita belum bisa bertemu, Insya Allah atas ijin Allah kita akan dipertemukan suatu saat nanti, nanti..jika tubuhku sudah siap menopangmu, nanti jika memang saatnya tiba, sekarang bergeraklah senyaman yang kamu mau.. dan meneteslah air mataku karena menyadari darah yang terus sedikit demi sedikit keluar ini adalah dia. Tiga jam kemudian dr. Tulus menelfon dan memintaku ke kamar konsultasi dr. Gita. Di ruangan beliau memberitahukan bahwa bHCGku menurun drastis dari dua hari yang lalu yang artinya tidak ada perkembangan janin. Dari USG pun si kantong kehamilan tidak lagi terlihat, sementara dr. Gita masih mengobservasi tuba falopiku, darah mengalir tiada henti, kali ini makin deras. Kupandangi monitor USG, tidak ada siapa-siapa disana, aku menguatkan hati mengucapkan selamat jalan untuk calon anakku. Walaupun menurut dr. Gita usia janinku enam minggu, entah kenapa aku tidak percaya. Berbekal rasa penasaran, aku nggak tidur semalaman sepulangnya dari klinik, beragam artikel tentang kehamilan habis kubaca, video tentang bagaimana perjalanan bayi dalam rahim ibu kutonton berulang kali sambil berurai air mata. Akupun mencoba merekonstruksi pembuahan yang terjadi di rahimku berdasarkan kadar bHCGku, masa subur, tanggal berhubungan intim dan tanggal terakhir haid dan itu semua menjawab kenapa janinku belum bisa dilihat dengan USG, ya karena usianya masih tiga minggu dengan kadar darah 146mIU/ml urine (sebelum turun menjadi 94 mIU/ml urine 2 hari kemudian). Berapapun usianya, tiga, enam, sembilan minggu…tetap merupakan keajaiban untuk kami, keajaiban untukku mengalami hamil. Menyadari pernah ada zygot hasil dari pembuahan sperma dan telur yang berkelana menuju rahimku sudah membuatku kehabisan kata apalagi mengetahui pernah ada embrio menempel di rahimku. Tak sabar rasanya ingin mengulang situasi tersebut, situasi yang berselimutkan energi positif, energi kebahagiaan, energi dari cinta kasih yang mempertemukan sperma dan sel telur kemudian membuahinya… Insya Allah.. keajaiban itu ada, harapan itu ada, karena kami yakin.

And for my dearest husband, thanking you for all the supports you gave, you are my strength no matter the distance between Jakarta-Bourges

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s